SEJARAH MUNCULNYA MADRASAH DI INDONESIA DAN PERKEMBANGANNNYA

Menelusuri makna madrasah secara harfiah

Kata madrasah berasal dari bahasa Arab yang  merupakan isim makan dari darasa-yadrisu. Secara harfiah, kata ini berarti atau setara maknanya dengan kata Indonesia, “sekolah”. Madrasah mengandung arti tempat, wahana anak mengenyam proses pembelajaran. Maksudnya, di madrasah itulah anak menjalani proses belajar secara terarah, terpimpin, dan terkendali. Dengan demikian, secara teknis madarasah menggambarkan proses pembelajaran secara formal yang tidak berbeda dengan sekolah. Hanya dalam lingkup kultural, madrasah memiliki konotasi spesifik. Di lembaga ini anak memperoleh hal-ihwal atau seluk beluk agama dan keagamaan. Sehingga dalam pemakaiannya kata madrasah lebih dikenal sebagai sekolah agama.[1]

Kata madrasah, yang secara harfiah identik dengan sekolah agama, setelah mengaarungi perjalanan peradaban bangsa diakui telah mengalami perubahan-perubahan walaupun tidak melepaskan diri dari makana asal sesuai dengan ikatan budaya Islam.[2]

Sejarah Munculnya Madrasah di Indonesia

Tampaknya kehadiran madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam setidak-tidaknya memiliki latarbelakang, di antaranya:

  1. Sebagai manifestasi dari realisasi pembahuruan sistem pendidikan Islam.
  2. Usaha penyempurnaan terhadap sstem pesantren ke arah suatu sistem pedidikan yang lebih memungkinkan lulusannya memperoleh kesempatan yang sama dengan sekolah umum, misalnya masalah kesamaan kesempatan kerja dan perolehan ijazah.
  3. Adanya sikap mental pada sementara golongan umat Islam, khususnya santri yang terpukau pada Barat sebagai sistem pendidikan mereka.
  4. Sebagai upaya untuk menjembatani antara sistem pendidikan tradisional yang dilakukan oleh pesantren dan sistem pendidikan dari hasil akulturasi.[3]

Pada mulanya, pendidikan Islam dilaksanakan di surau-surau dengan tidak menggunakan sistem klasikal dan tidak pula menggunakan bangku, meja, papan tulis, hanya duduk bersila saja. Kemudian mulailah perubahan sedikit demi sedikit sampai sekarang. Pendidikan Islam yang mula-mula menggunakan sistem klasikal dan memakai bangku, meja dan papan tulis ialah Sekolah Adabiyah (Adabiyah School) di Padang.yang didirikan Syekh Abdullah Ahmad pada tahun 1909. Dan inilah madrasah (Sekolah Agama) yang pertama di Minangkabau, bahkan diseluruh Indonesia, karena menurut penyelidikan tidak ada madrasah yang lebih dulu didirikan dari Sekolah Adabiyah itu. Dan madrasah Adabiyah tersebut berkembang sampai tahun 1914. Akan tetapi kemudian diubah menjadi HIS[4] Adabiyah pada tahun 1915. Dan inilah HIS yang pertama di Minangkabau yang memasukkan pelajaran Agama dalam rencana pembelajarannya.

Gagasan awal dalam proses moderisasi pendidikan Islam  sebagaimana diungkapkan Husni Rahim[5], setidaknya ditandai oleh dua kecendrungan organisasi-organisasi Islam dalam mewujudkannya yaitu:

Pertama, mengadopsi sistem pendidikan dan lembaga pendidikan modern (Belanda) secara menyeluruh. Usaha ini melahirkan sekolah-sekolah umum model Belanda tetapi diberi muatan tambahan pengajaran Islam.

Kedua, munculnya madrasah-madrasah modern, yang secara terbatas mengadopsi substansi dan metodologi pendidikan modern Belanda, namun tetap menggunakan madrasah dan lembaga tradisional pendidikan Islam sebagai basis utamanya.

 

 

Perkembangan Madrasah di Indonesia

  1. Madrasah pada masa Penjajahan

Masa penjajahan, pendidikan Islam dipandang sebelah mata oleh pihak pemerintahan  kolonial Belanda, karena mereka merasa tidak perlu dan tidak ada gunanya untuk melakukan sesuatu, karena pendidikan Islam dianggap sebagai pendidikan moral keagamaan yang mengagungkan rasa intuitif yang memberikan sumber semangat perjuangan bagi rakyat. [6]

Adapun madrasah yang lahir pada masa ini: Madrasah Tawalib oleh Syaikh Abdul karim Amrullahdi Padang Panjang); Madrasah Nurul Iman oleh H. Abd Somad di Jambi, Madrasah Saadah al-Darain oleh H. Achmad Syakur; Saadah Adabiyah oleh Tengku Daud Beureueh. Hal serupa juga di Sumatera Timur, tapanulli, Sumatera Selatan, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan lain-lain.[7]

  1. Madrasah pada Awal Masa Kemerdekaan

Di awal kemerdekaan, tidak dengan sendirinya madrasah dimasukkan kedalam system pendidikan nasional. Madrasah memang tetap hidup, tetapi tidak memperoleh bantuan sepenuhnya dari pemerintahan.[8] Adanya perhatian pemerintah baru diwujudkan denagan PP No. 33 Tahun 1949 dan PP No. 8 Tahun 1950, yang sebelumnya telah dikeluarkan peraturan Menteri Agama No. 1 Tahun 1946, No. 7 Tahun 1952, No. 2 Tahun 1960 dan terakhir No. 3 Tahun 1979 tentang pemberian bantuan kepada madrasah.[9]

Ditinjau dari segi jenis madrasah berdasarkan kurikulum dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu: Madrasah Diniyah, Madrasah SKB 3 Mentri dan Madrasah Pesantren. Madrasah Diniyah adalah suatu bentuk madrasah yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama (diniyah).[10]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] A. Malik Fajar, Madrasah dan Tantangan Moderenitas, (Bandung: Mizan, 1998), h.18-19.

[2] Ibid

[3] Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia: Lintasan Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2001), h. 163.

[4] HIS =Hollandsche Indische Schoel atau Sekolah Belanda Boemi Poetra.

5 Muhammad Kholid Fathoni, Pedidikan Islam dan Pendidikan Nasional:Paradigma Baru. (Jakarta: Departemen Agama RI, 2005), h. 61.

 

[6] Abdul Rchman Shaleh, Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa: Visi, Misi dan Aksi,(Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2006)

[7] ibid

[8] H.M. Ridlwan Nasir, Mencari Tipologi Format Pendidikan Ideal: Pondok Pesantren di Tengah Arus Perubahan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), h.95.

[9] Ibid., h. 23.

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

المرأة في حياة الرسول

  1. “استوصوا بالنساء خيرا” كانت هذه الوصية مما ختم النبي (ص) رسالته فى آخر خطبة خطبها، قبل أن ينتقل إلى جوار ربه ، وذلك فى حجة الوادع التي سميت كذلك لأنها كانت آخر حجة حجها بالمسلمين. فى هذه الخطبة وضح النبي الكريم الخطوط الكبرى من رسالته، فكان منها وصيته بالنساء خيرا. وكما كان ختام رسالته ، كذلك كان بدؤها. فقد كان تحرير المرأة والرفع من شأنها من اسس الرسالة الإسلامية، إذ أن الاسلام حرم وأد البنات، وفرض للمرأة حقوقا لم تكن لها. فمن الطبيعي أن يكون للمرأة بعد هذا أثر واضح فى حياة الرسول الخاصة والعامة، وأن يكون للرسول مثل هذا الأثر فى حياة المرأة الخاصة والعامة.
  2. لقد نشأ (ص) يتيما ، إذ توفي أبوه عبد الله قبل مولده ، وكان حنان الأم ورعايتها أعظم شيئ اطمأنت إليه نفسه. ومن رعاية الأم إلى رعاية المرضعات اللاتى منحنه الخنان والحب. أولاهن أم أيمن التى تولته بعد وفاة أمه آمنة. ومنهن حليمة السعدية التى ظل فى رعايتها أربع سنوات صارت له أما ثانية بعد أمه. وقد كان الرسول الكريم (ص) يكرمها كلما وفدت ويجلسها إلى جانبه على ردائه.
  3. وكما كان للمرأة أثر خاص فى طفولته، كان لها مثل هذا الأثر فى شبابه. ولاشك أن زواجه من خديجة بنت خويلد أهم حدث فى حياته فى ذلك الوقت. فقد اطمأن إلى زوج ورفيقه نفضله على نفسها، وتهيى له كل أسباب الاطمئنان بمحبتها وإخلاصها وحكمتها ومالها. وعندما احتاره الله لابلاغ الرسالة، كانت خديجة (ض) أول من آمن بالله ورسوله، وأول من صدق بكل ما جاء به، لقد وقفت إلى جانبه تشجعه وتشد من أزره.
  4. وفى يوم الهجرة العظيم ، كانت قريش تطارد النبي وصاحبه الصديق، وأمرت فرسانها وشبابها بالقبض عليهما أومنعهما من الهجرة. وفي تلك الساعات الصعبة ، كانت فتاة شجاعة تخاطر بنفسها، فتعزم على نصرتهما وتيسير هجرتهما، فتحمل إليهما الطعام وهما فى الغار، وتنقل إليهما أخبار قريش. وتتعرض فى سبيل ذلك للتهديد والضرب، فتكتم السر ولاتخبر قريشا بمكان النبي (ص) وصاحبه. وبذلك يستطيع المهاجران أن يصلا بسلام إلى المدينة. تلك الفتاة كانت أسماء بنت أبي بكر الصديق (ض).
  5. ومنهن ابنته السيدة فاطمة الزهراء . فقد كانت محبته لها ولأبنائها فوق الوصف ، حتى أنه قال: “فاطمة بضعة مني فمن أغضبها فقد أغضبني ومن أغضبنى فقد أغضب الله”. ولعل سبب مكانتها العظمى بين المسلمين ، هذه المنـزلة التى حصها بها النبي من نفسه ، بالإضافة إلى علمها وروايتها للحديث، وكونها زوج الامام على وأم الحسن والحسن “سدي شباب أهل الجنة”.

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

AYAT TENTANG PENDIDIKAN MANUSIA

بسم الله الرحمن الرحيم

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ . خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ . اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأكْرَمُ . الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ . عَلَّمَ الإنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ . كَلا إِنَّ الإنْسَانَ لَيَطْغَى . أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى . إِنَّ إِلَى رَبِّكَ الرُّجْعَى . أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَى . عَبْدًا إِذَا صَلَّى . أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ عَلَى الْهُدَى . أَوْ أَمَرَ بِالتَّقْوَى . أَرَأَيْتَ إِنْ كَذَّبَ وَتَوَلَّى . أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللهَ يَرَى . كَلا لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِ . نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ . فَلْيَدْعُ نَادِيَهُ . سَنَدْعُ الزَّبَانِيَةَ . كَلا لا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ .

Artinya:

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena Dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali(mu). Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang seorang hamba ketika mengerjakan shalat, bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran, atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)? Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling? Tidaklah Dia mengetahui bahwa Sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? Ketahuilah, sungguh jika Dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka. Maka Biarlah Dia memanggil golongannya (untuk menolongnya), kelak Kami akan memanggil Malaikat Zabaniyah. Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).

 

 

KANDUNGAN

Secara harfiah, qara’ yang terdapat pada ayat tersebut berarti menghimpun huruf-huruf dan kalimat satu dengan kalimat lainnya dan membentuk suatu bacaan.[1] Menurut al-Maraghi secara harfiyah ayat tersebut dapat diartikan: Jadilah engkau seorang yang dapat membaca berkat kekuasaan dan kehendak Allah yang telah menciptakanmu walaupun sebelumnya engkau tidak dapat melakukannya.[2]

Selain itu ayat tersebut mengandung perintah agar manusia memiliki keimanan, yaitu berupa keyakinan terhadap adanya kekuasaan dan kehendak-Nya Allah, juga mengandung pesan ontologis tentang sumber ilmu pengetahuan. Pada ayat tersebut Allah SWT. menyuruh Nabi Muhammad agar membaca.

 

TAFSIR MUFRADAT

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ . خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ

Perintah membaca al-Qur’an ; manusia dijadikan dari segumpal darah; Allah berkuasa menciptakannya tergandengan dengan qadha’ dan Qadar Allah.

 

SEBAB NUZUL

Suratal-Alaq yang terdiri dari 19 ayat ini tergolong suratyang diturunkan di Mekah (Makkiyah). Hubungannya dengan ayat sebelumnya (yaitu suratat-Tin) yang membicarakan tentang penciptaan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.[3]

Paraahli tafsir pada umumnya berpendapat bahwa ayat pertama sampai ayat kelima diturunkan oleh Allah SWT. pada Nabi Muhammad SAW. yaitu pada waktu ia berkhalwat di gua Hira’. Pada saat itu malaikat Jibril datang kepada Nabi Muhammad SAW. dan menyuruhnya membaca ayat tersebut, dan setelah tiga kali malaikat (Jibril) tersebut, barulah Nabi dapat membaca kelima ayat tersebut.

 

MUNASABAH

Proses tentang kejadian manusia lebih lanjut dijelaskan dalamsuratal-Mu’minun/23 : 12-14:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ . ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ . ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ .

Artinya:

“Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.

ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ

Ayat ini menunjukkan bahwa di samping manusia memiliki unsur fisik sebagaimana dimiliki makhluk lainnya, namun ia juga memiliki potensi lain.

Menurut H. M. Quraish Shihab, bahwa potensi lain itu adalah adanya unsur ilahiyah (ruh ilahiyah) yang dihembuskan Tuhan pada saat bayi berusia 4 bulan dalam kandungan.[4]

 

TAFSIR TARBAWI

Manusia dapat menjadi tujuan pendidikan dengan ungkapan bahwa pendidikan adalah upaya membina jasmani manusia dengan segenap potensi yang ada dan manusia dapat pula merumuskan pendidikan dengan ungkapan bahwa materi pendidikan harus berisi bahan-bahan pelajaran yang dapat menumbuhkan, mengarahkan, membina dan mengembangkan potensi-potensi jasmaniah dan rohaniah tersebut secara seimbang.

 

ANALISIS BAHASA

Allah menjadikan manusia dari segumpal darah menjadi makhluk yang paling mulia, dan selanjutnya Allah memberikan potensi untuk berasimilasi dengan segala sesuatu yang ada di alam jagat raya yang selanjutnya bergerak dengan kekuasaannya, sehingga ia menjadi makhluk yang sempurna, dan dapat menguasai bumi dengan segala isinya, kekuasaan Allah itu telah diperlihatkan ketika ia memberikan kemampuan membaca kepada Nabi Muhammad SAW., sekalipun sebelum itu ia belum pernah membaca.

 

 

 

 

 


BAB III

KESIMPULAN

 

Asal-usul kejadian manusia beserta sifat-sifat negatifnya ini sangat membantu dalam rangka merumuskan tujuan. Allah berkuasa untuk menciptakan manusia serta memberikan nikmat dan karunia, yang berupa kemampuan membaca kepada Nabi Muhammad. Kekuasaan Allah ini amat membantu dalam merumuskan tujuan pendidikan, yaitu agar manusia senantiasa menyadari dirinya sebagai ciptaan Allah yang harus patuh dan tunduk kepada-Nya.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Asfahani, Al-Raghib. tp.th. Mu’jam Mufradah Alfadz Al-Qur’an.Cairo: Dar al-Fikr.

Al-Maraghi, Ahmad Musthofa. Tafsir al-Maraghi.

Nata, Abuddin. 2002. Tafsir Ayat-ayat Pendidikan, Tafsir al-Ayah at-Tarbawi. PT. RajaGrafindo Persada.


[1] Al-Raghib al-Asfahani, Mu’jam Mufradah Alfadz al-Qur’an (Cairo: Dar al-Fikr, tp.th.) hal. 414.

[2] Al-Maraghi, op.cit., hal. 198.

[3] Ahmad Musthofa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi

[4] Abuddin Nata, Tafsir Ayat-ayat Pendidikan, Tafsir al-Ayah at-Tarbawi, PT. RajaGrafindo Persada, 2002, hal. 46.

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

GURU DALAM KONTEKS MENDIDIK

Kualitas guru harus di tingkatkan melalui program pendidikan guru. Mereka yang sudah menjadi guru harus di bina Dan di kembangkan potensi kependidikannya agar selalu bertumbuh dalam jabatannya. Pertumbuhan jabatan guru harus di kaitkan dengan peningkatan proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar di lihat dalam konteks pendidikan sebagai suatau proses kemanusiaan manusia.

Belajar mengajar tidak di lihat hanya sebagai suatu proses alih ilmu pengetahuan tetapi lebih dari itu, yaitu sebagai proses pemanusiaan manusia. UUD 1945 mengamatkan mencerdaskan kehidupan bangsa, mencerdaskan kehidupan bangsa melalui proses pendidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan.

Guru sebagai pendidik memberikan pengaruh terhadap subjek didik. Dengan demikian bahasan tentang guru selalu di lihat dalam konteks mendidik.

  1. 1.      Hakikat Mendidik

Mendidik adalah suatu usaha untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran Dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang ( UUD RI No 2 Tahun 1989 :2 )

Tidak di kemukakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar yang sengaja di rancangkan untuk mencapai tujuan. Bagi bangsa Indonesia hakikat sesuai dengan pandangan filsafat tentang manusia, yaitu manusia pancasila. Pandangan filsafat yang memungkinkan suatu perbuatan mendidik dapat dilaksanakan sebagai berikut :

  1. Pendidik harus mengakui bahwa manusia adalah makhluk yang percaya Dan takwa serta beriman kepada Tuhan yang maha esa. Pendidik harus mampu memberikan kebebasan agar manusia mengembangkan apa yang di berikan Tuhan secara bertanggung jawab.
  2. Pendidikan dapat berlangsung bila manusia di akui sebagai makhluk susila. Pendidikan bertugas membina kemampuan untuk membuat pilihan nilai baik berdasarkan akal, Dan hati nurani.
  3. Manusia sebagai makhluk sosial, maka pendidikan harus mengakui aspek sosial manusia. Dengan demikian pendidikan adalah suatu proses sosialisasi nilai-nilai hidup.
  4. Manusia sebagai makhluk individu. Itu berarti pendidikan harus mengakui kebebasan individu dalam batasan keterkaitan.
  5. Manusia sebagai makhluk sosial etis ingin di perlukan Dan memperlakukan manusia secara sama. Perlakuan yang sama berarti memperlakukan manusia secara adil.
  6. 2.      Arti Mendidik

Mendidik adalah usaha untuk menyiapkan peserta didik melalui bimbingan, pengalaman Dan atau pelatihan bagi peranannya di masa yang akan datang. ( UU RI No 2 Tahun 1989 )

Berdasarkan definisi yang di kembangkan di atas dapat di identifikasikan komponen pendidikan sebagai berikut.

a)      Tujuan Pendidikan

Tujuan pendidikan dapat di capai melalui proses pendidikan Dan pengajaran. Ada yang merumuskan tujuan  pendidikan dengan berorentasi  pada  kebutuhan subyek didik. Kebutuhan itu di nyatakan sebagai berikut.:

–         Semua peserta didik memerlukan pengembangan Dan pemilihan kesehatan jasmani, mental, Dan rohani.

–         Semua peserta didik memerlukan ketawaan, keimanan, Dan budi pekerti yang baik.

b)      Subyek Didik

Nilai kemanusiaan sebagai individu, sebagai makhluk sosial yang mempunyai identitas moral, harus di kembangkan untuk memcapai tingkatan optimal Dan criteria kehidupan sebagai manusia, warga Negara yang di harapkan.

Secara teoritas subjek didik di lihat sebagai seseorang yang harus mengembangkan diri pada sisi lain ia memperoleh pengaruh, bantuan yang memungkinkan ia mampu berdiri sendiri atau bertanggung jawab sendiri.

c)      Pendidik

Pendidika adalah orang yang di serahi tanggung jawab mendidik. Orang tua adalah pendidik kodrati. Ayah Dan ibu mempunyai tanggung jawab secara kodrati. Tugas orang tua adalah mendidik anak-anaknya, oleh karenanya itu merupakan sebagian dari tugas didik, misalnya mengajar tidak dapat di laksanakan orang tua maka sekolah sebagai lembaga formal di serahi tanggung jawab untuk mendidik.

d)      Alat Dan Faktor Pendidik

Alat pendidikan adalah segala usaha yang dengan sengaja di gunakan untuk mencapai tujuan pendidikann, misalnya pengajaran, tata tertib, disiplin Dan segala tindakan yang di gunakan dalam proses pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan.

e)      Lingkungan Pendidikan

Lingkungan Dan subyek didik berada situasi pendidikan. Situasi seperti itu di sebut situasi didik. Keterlibatan pendidik Dan subyek  di batasi oleh ruang Dan waktu. Lingkungan pendidikan punya pengaruh besar terhadap pendidikan.

Setiap guru perlu melihat dengan jelas tujuan-tujuan yang hendak di capai melalui kegiatan pendidikan. Ia harus tahu ke arah mana subjek didik itu harus di bawa.

Kelima komponen-komponen di atas tersebut merupakan komponen yang sangat perlu di  pahami oleh setiap guru pengajar Dan pendidik.

  1. 3.      Hakikat Guru Pendidik Dan Pengajar

Guru adalah pembimbing, pengajar Dan pelatih. Sebaiknya tugas guru tidak hanya bersifat mengajar saja tetapi harus di pahami dalam makna yang lebih luas lagi.

  • Bagian ini membahas guru sebagai pengajar Dan guru sebagai pendidik.

–         Guru sebagai pengajar Dan pelatihan ( pendidik )

Sebagai guru ia menyampaikan materi pelajaran atau dengan istilah komunikasi. Guru mengomunikasikan pesan-pesan materi pelajaran. Tetapi juga harus menanamkan konsep berpikir melalui pelajaran yang di berikan.

–         Guru sebagai pembimbing

Sebagai subyek mempunyai pribadi yang unik. Masing-masing punya ciri Dan sifat bawaan serta latar belakang kehidupan. Guru pada saat mengajar juga bertindak sebagai pembimbing yang dapat menolong siswa agar mampu menolong dirinya sendiri. Disinilah letak guru sebagai pembimbimg.

–         Guru bukan hanya mengajar, pelatihan Dan pembimbingan tetapi juga sebagai cermin tempat subjek didik dapat  berkata. Guru memberikan contoh Dan menjadi contoh. Guru mampu menjadi orang yang dapat mengerti diri siswa dengan segala problemnya. Guru juga harus punya wibawa sehingga siswa enggan terhadapnya. Hakikat guru pendidik ialah bahwa ia di gugu Dan di tiru.[1]


[1] Sahertian.Piet.A, Profil Pendidik Profesional, (Yogyakarta : Andi Offset, 1994), 1-10

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Membaca ayat-ayat Alqur’an yang Menjelaskan sifat-sifat Allah SWT

  1. A.     Ayat – ayat yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah SWT

 

  1. Wujud Surat Al A’raf Ayat 5
  2. Qidam Surat Al Hadid Ayat
  3. Baqo’ Surat Ar Rahman ayat 26-27
  4. Mukhalafatul lilhawadist Surat As Syura Ayat 11
  5. Qiyamuhu Binafsihi Surat Al-Isro’ Ayat 111
  6. Wahdaniyah Surat Al Ikhlas Ayat 1-4
  7. Qudrah Surat Al baqarah ayat 20
  8. Iradah Surat Yasin Ayat 82
  9. Ilmu Surat Al Mujadilah Ayat 7
  10. HayatSurat Al Baqoroh Ayat 225
  11. Sama’ Surat An Nisa’ Ayat 148
  12. Bashar Al An’am Ayat 103
  13. Kalam Surat An NIsa’ ayat 164[1]

 

  1. B.     Menyebutkan Arti Ayat-ayat Al-Qur’an Yang Berkaitan Dengan Sifat-Sifat Allah

Allah itu mempunyai sifat-sifat yang oleh para ulama’ di bagi menjadi tiga yaitu sifat Wajib, Sifat Mustahil, dan sifat Jaiz.

  1. Wujud artinya Allah maha ada, dan mustahil Allah tidak ada( adam ) Dengan perantara akal sehat, Kita akan membenarkan bahwa alam semesta dengan segala isinya pasti ada yang membuat, Dialah Allah SWT. Seperti firman Allah.

žcÎ) ãNä3­/u‘ ª!$# “Ï%©!$# t,n=y{ ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚö‘F{$#ur ’Îû Ïp­Gř 5Q$­ƒr& §NèO 3“uqtGó™$# ’n?tã ĸóyêø9$# ÓÅ´øóムŸ@ø‹©9$# u‘$pk¨]9$# ¼çmç7è=ôÜtƒ $ZWÏWym }§ôJ¤±9$#ur tyJs)ø9$#ur tPqàf‘Z9$#ur ¤Nºt¤‚|¡ãB ÿ¾Ín͐öDr’Î/ 3 Ÿwr& ã&s! ß,ù=sƒø:$# âöDF{$#ur 3 x8u‘$t6s? ª!$# >u‘ tûüÏHs>»yèø9$

Artinya : Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam.     ( Q.S Al-A’raf ayat 54)

  1. Qidam Artinya Allah maha terdahulu, dan muhal Allah itu baru             ( Huduts). Maksudnya adanya Allah yang paling awal sebelum adanya alam semesta, adanya Allah berbeda dengan adanya alam semesta. Allah  seperti firman Allah

uqèd ãA¨rF{$# ãÅzFy$#ur ãÎg»©à9$#ur ß`ÏÛ$t7ø9$#ur ( uqèdur Èe@ä3Î/ >äóÓx« îLìÎ=tæ ÇÌÈ

Artinya : Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.( Q.S Al Hadid Ayat 3 )

 

  1. Baqa’ yang berarti Allah maha kekal dan mustahil allah itu rusak         ( Fana’ ).  Semua Makhluk seperti manusia, bintang, tumbuhan, planet dengan segala isinya, pada saatnya akan mengalami kerusakan dan kehancuran. Seperti Firman Allah

‘@ä. ô`tB $pköŽn=tæ 5b$sù ÇËÏÈ   4’s+ö7tƒur çmô_ur y7În/u‘ rèŒ È@»n=pgø:$# ÏQ#tø.M}$#ur ÇËÐÈ

Artinya : Semua yang ada di bumi itu akan binasa dan tetap kekal Dzat Tuhanmu  yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.(Ar Rahman ayat ayat 26-27)

  1. Mukhalafatul lilhawadist yang berarti Allah berbeda dengan sesuatu  yang baru dan mustahil Allah sama dengan sesuatu yang baru / mumastalatul lilhawadist artinya Allah wajib berbada dengan sesuatu yang baru yakni ciptaannya dan mustahil Allah serupa dengan ciptaannya. Seperti firman Allah

 }§øŠs9 ¾ÏmÎ=÷WÏJx. Öäï†x« ( uqèdur ßìŠÏJ¡¡9$# 玍ÅÁt7ø9$# ÇÊÊÈ

Artinya : Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.( As Syura ayat 11)

  1. Qiyamuhu Binafsihi artinya Allah itu berdiri sendiri tidak tergantung kepada yang lain dan mustahil Allah membutuhkan dari yang lain. Seperti firman Allah Surat Al isro’ ayat 111

È@è%ur ߉ôJptø:$# ¬! “Ï%©!$# óOs9 õ‹Ï‚­Gtƒ #V$s!ur óOs9ur `ä3tƒ ¼ã&©! Ô7ƒÎŽŸ° ’Îû Å7ù=ßJø9$# óOs9ur `ä3tƒ ¼ã&©! @’Í<ur z`ÏiB ÉeA—%!$# ( çn÷ŽÉi9x.ur #MŽÎ7õ3s? ÇÊÊÊÈ

Artinya : Dan Katakanlah: “Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.

  1. Wahdaniyyah yang berarti Allah maha Esa dan mustahil Allah itu berbilang ( Ta’addud ) Seperti firman Allah

 

ö@è% uqèd ª!$# î‰ymr& ÇÊÈ   ª!$# ߉yJ¢Á9$# ÇËÈ   öNs9 ô$Î#tƒ öNs9ur ô‰s9qムÇÌÈ   öNs9ur `ä3tƒ ¼ã&©! #·qàÿà2 7‰ymr& ÇÍÈ

Artinya :  Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa.Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” ( Al Ikhlas 1-4 )

  1. Qudrad yang berarti Allah maha kuasa dan mustahil Allah bersifat tidak kuasa. Kekuasaan Allah kekuasaan yang sempurna, ini karna kekuasaan Allah adalah kekuasaan yang tidak terbatas. Seperti firman allah :

žcÎ) ©!$# 4’n?tã Èe@ä. &äóÓx« ֍ƒÏ‰s% ÇËÉÈ

Artinya : Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.( Al Baqarah 20 )

  1. Iradah yang berate Allah maha berkehendak, dan mustahil Allah tidak memiliki kehendak atau terpaksa melakukan sesuatu. Kehendak Allah sesuai kemampuan Allah sendiri tanpa rasa terpaksa atau di paksa oleh pihak lain. Seperti Firman Allah

!$yJ¯RÎ) ÿ¼çnãøBr& !#sŒÎ) yŠ#u‘r& $º«ø‹x© br& tAqà)tƒ ¼çms9 `ä. ãbqä3uŠsù ÇÑËÈ

Artinya : Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” Maka terjadilah ia.(Surat Yasin ayat 82)

  1. Ilmu yang berarti Allah maha mengetahui dan mustahil Allah itu bodoh. Segala yang ada di jalan raya ini yang kecil maupun yang besar, kelihatan maupun yang tersembunyi. Tidak ada yang terlepas dari pengetahuan Allah. Seperti firmanAllah

 ¨bÎ) ©!$# Èe@ä3Î/ >äóÓx« îLìÎ=tæ ÇÐÈ

Artinya : Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.( Al Mujadilah 7)

  1. Hayat yang bearti Allah maha hidup dan mustahil. Hidupnya Allah tentu berbeda dengan hidupnya manusia atau makhluk yang lain. Perbedaan itu antara lain  :
    1. Allah hidup tanpa ada yang menghidupkan
    2. Allah hidup tidak tergantung pada yang lain
    3. Allah hidup selama-lamanya

Seperti Firman Allah :

ª!$# Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd ÓyÕø9$# ãPq•‹s)ø9$# 4 Ÿw ¼çnä‹è{ù’s? ×puZř Ÿwur ×PöqtR 4 ¼çm©9 $tB ’Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# $tBur ’Îû ÇÚö‘F{$#

Artinya :  Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. ( Al Baqarah 255 )

  1. Sama’ yang berarti Allah maha mendengar, dan mustahil Allah itu tuli ( Shomam ). Allah maha mendengar, Pendengaran Allah tidak terbatas  dan terhalang oleh jarak ruang dan waktu. Seperti firman

* žw =Ïtä† ª!$# tôgyfø9$# Ïäþq¡9$$Î/ z`ÏB ÉAöqs)ø9$# žwÎ) `tB zOÎ=àß 4 tb%x.ur ª!$# $·è‹Ïÿxœ $¸JŠÎ=tã ÇÊÍÑÈ

Artinya : Allah tidak menyukai Ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.( An Nisa’ 148)

 

  1. Basar yang berarti Allah maha melihat, dan mustahil Allah itu Buta. Mustahil Allah buta karna Allah maha sempurna pendengarannya. Seperti Firman Allah.

¼ç¯RÎ) uqèd ßìŠÏJ¡¡9$# 玍ÅÁt7ø9$# ÇÊÈ

Artinya : Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

  1. Kalam yang berarti Allah maha berbicara/ berfirman, dan mustahil Allah itu Bisu. Bukti kalau Allah itu bersifat kalam adalah kitab-kitab Allah yang di turunkan pada nabi dan rasulnya. Seperti Firman Allah Surat An Nisa’ ayat 164

 zN¯=x.ur ª!$# 4Óy›qãB $VJŠÎ=ò6s? ÇÊÏÍÈ

Artinya : Dan (kami telah mengutus) Rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan Rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung

  1. Qadiran yang berarti Allah Dzat yang maha kuasa, dan mustahil allah itu tidak berdaya.
  2. Muridan yang berarti Allah itu dzat yang maha berkehendak dan mustahil allah itu dzat yang tidak memiliki daya cipta atau tidak berkehendak.
  3. Aliman yang berarti Allah itu yang maha mengetahui dan mustahil Allah itu Dzat yang bodoh.
  4. Hayyan yang berarti Allah itu dzat yang maha hidup, dan mustahil allah itu dzat yang mati.
  5. Sami’an yang berarti Allah itu dzat yang maha mendengar dam mustahil Allah itu Dzat yang tuli.
  6. Basyiran yang berarti Allah itu Dzat yang maha melihat dan mustahil Allah itu buta.
  7. Mutakalliman yang berarti Allah itu Dzat yang berbicara / berfirman dan mustahil Allah dzat yang buta.

Sedangkan sifat yang jaiz bagi Allah itu adalah :

Artinya : Boleh bagi Allah mengerjakan Sesutu atau tidak mengerjakannya[2]

  1. C.     Tanda- tanda Keberadaan Allah

Untuk membuktikan keberadaan Allah sebagai tuhan yang maha pencipta, ada dua cara yang dapat di lakukan.

  1. Dengan melakukan pencarian berdasarkan akal fikiran.
  2. Melakukan pencarian berdasarkan wahyu yang di bawa para nabi dan rasul.

ü      Pencarian tuhan berdasarkan akal fikiran

Pencarian tuhan yang maha wujud dapat di lakukan dengan memikirkan alam sekitar, tentang semua makhluk.

ü      Pencarian tuhan berdasarkan wahyu

Islam mengajarkan bahwa rasul Allah, mulai dari Nabi Adam A.S sampai Nabi Muhammad semuanya membawa risalah ketauhitan yaitu ajaran bahwa yang menciptakan, Mengurus, melindungi, bahkan menghancurkan alam semesta ini hanyalah Allah SWT. Keberadaan Allah adalah mutlak ada manusia sebagai makhliknya harus meyakini keberadaan dan menyembahnya. Firman Allah SWT. Surat Al Anam ayat 102

ãNà6Ï9ºsŒ ª!$# öNä3š/u‘ ( Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd ( ß,Î=»yz Èe@à2 &äó_x« çnr߉ç6ôã$$sù 4 uqèdur 4’n?tã Èe@ä. &äóÓx« ×@‹Å2ur

Artinya : (yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain dia; Pencipta segala sesuatu, Maka sembahlah dia; dan Dia adalah pemelihara segala sesuatu.

  1. D.    Perilaku yang mencerminkan keyakinan terhadap sifat-sifat Allah

 

Perilaku yang mencerminkan seseorang beriman kepada sifat-sifat Allah SWT di antaranya.

  1. Selalu berbuat kebaikan di manapun ia berada karna ia meyakini bahwa Allah itu selalu ada, tidak pernah hilang atau tiada.
  2. Selalu beristiqomah dalam beribadah kepada Allah, tidak pernah tergoda oleh ajakan-ajakan yang bisa melalaikannya.
  3. Selalu baik sangka dalam memandang berbagai persoalan terhadap orang lain.
  4. Bersungguh-sungguh dalam berbuat kebaikan, termasuk dalam menuntut ilmu.
  5. Mencintai sesama manusia. Dia yaqin bahwa semua manusia itu sama sebagai makhluk Allah, yang membadakan hanyalah kwalitas ketaqwaannya.
  6. Selalu menolong orang yang berada dalam kesusahan. Ia yaqin bahwa manusia yang satu dengan yang lainnya saling membutuhkan, tidak dapat hidup tanpa pertolongan orang lain.
  7. Selalu menyadari kelemahan dan keterbatasan diri. Ia yaqin yang kuat hanyalah Allah SWT.[3]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

  1. Ayat – ayat yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah SWT adalah, Wujud Surat Al A’raf Ayat 5, Qidam Surat Al Hadid Ayat , Baqo’ Surat Ar Rahman ayat 26-27, Mukhalafatul lilhawadist Surat As Syura Ayat 11, Qiyamuhu Binafsihi Surat Al-Isro’ Ayat 111, Wahdaniyah Surat Al Ikhlas Ayat 1-4, Qudrah Surat Al baqarah ayat 20, Iradah Surat Yasin Ayat 82, Ilmu Surat Al Mujadilah Ayat 7, Hayat Surat Al Baqoroh Ayat 225, Sama’ Surat An Nisa’ Ayat 148, Bashar Al An’am Ayat 103, Kalam Surat An NIsa’ ayat 164
  2. Sifat wajib bagi Allah ada 20 yaitu Wujud, qidam, baqa’, mukhalafatub lilhawadisi, qiyamuhu binafsihi, wahdaniyah, qudrah, Iradat, Ilmu, hayat, sama, basar, dan kalam.
  3. Sifat Mustahil bagi Allah ada 20 yaitu Adam, hudus, fana, mumasalatu lilhawadisi, ihtiyaju lighoirihi, ta’adus, ajzu, karahah, jahlun, maut, summum, uimyum, dan bukmun.
  4. Sifat yang membebaskan Allah SWT. Untuk berbuat atau tidak. Sifat jaiz ini ada 1 yaitu, Fi’lukulli mumkinin au tarkuhu.
  5. Untuk membuktikan keberadaan Allah sebagai tuhan yang maha pencipta, ada dua cara yang dapat di lakukan.

–         Dengan melakukan pencarian berdasarkan akal fikiran.

–         Melakukan pencarian berdasarkan wahyu yang di bawa para nabi dan rasul.

  1. Perilaku yang mencerminkan seseorang beriman kepada sifat-sifat Allah SWT di antaranya, Selalu berbuat kebaikan, Selalu beristiqomah, Selalu baik sangka, Bersungguh-sungguh dalam berbuat kebaikan, Mencintai sesama manusia, dan Selalu menolong orang yang berada dalam kesusahan, Selalu menolong orang yang berada dalam kesusahan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

  1. Tim Abdi Guru,  Ayo Belajar agama Islam,  Erlangga, Jakarta,  2007
  2. Hilal Suyitno, Pendidikan Agama Islam, Mediatama, Surakarta, 2003
  3. Sofwan Iskandar, Pendidikan agama islam,  Arya Duta, Kota Bogor, 2009

 


[1] Tim abdi Guru, Ayo Belajar agama Islam, ( Jakarta, Erlangga, 2007 ) Hal

[2] Hilal Suyitno, Pendidikan Agama Islam, ( Surakarta, Mediatama,2003) hal 8- 10

[3] Sofwan Iskandar, Pendidikan agama islam,  ( Kota Bogor, Arya Duta, 2009 )

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

SEWA MENYEWA ( IJARAH) DAN PERMASALAHANNYA

  1. A.   Pengertian Ijarah

 

Sebelum dijelaskan pengertian sewa menyewa dan upah atau ijarah, terlebih dahulu akan dikemukakan mengenai makna operasional ijarah itu sendiri. Idris Ahmad dalam bukunya yang berjudul Fiqih syafi’I berpendapat ijarah berarti upah mengupah.[1] Hal ini terlihat ketika beliau menerangkan rukun dan syarat upah mengupah, yaitu mu’jir dan musta’jir (yang memberikan upah dan yang menerima upah), sedang kan Nor Hasanuddin sebagai penerjemah Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq menjelaskan makna ijarah dengan sewa menyewa.[2]

Dari dua buku tersebut ada perbedaan terjemahan kata ijarah dari bahasa Arab kedalam bahasa Indonesia. Antara sewa dan upah juga ada perbedaan makna operasional, sewa biasanya digunakan untuk benda, seperti “seorang mahasiswa menyewa kamar untuk tempat tinggal selama kuliah”, sedangkan upah digunakan untuk tenaga, seperti “para karyawan bekerja dipabrik dibayar gajinya (upahnya) satu kali dalam seminggu”.

Secara etimologis al-ijarah berasal dari kata al-ajru yang arti menurut bahasanya ialah al-iwadh yang arti dalam bahasa indonesianya adalah ganti dan upah. Sedangkan menurut Rahmat Syafi’I dalam fiqih Muamalah ijarah adalah بيع        المنفعة (menjual manfaat).[3] Sedangkan menurut terminologinya terdapat beberapa pendapat.

a)      Menurut Hanafiyah :[4]

Artinya : “ Akad atas suatu kemanfaatan dengan pengganti “

b)      Menurut Asy-Syafiiyah [5]

عقد على منفعة مقصودة معلومة مباحة قابلة للبذل والإباحة بعوض معلوم

Artinya :  “Akad atas suatu kemanfaatan yang mengandung maksud tertentu  Dan mubah , serta menerima pengganti atau kebolehan dengan pengganti tertentu.

c)      Menurut Malikiyah[6] Dan Hambali [7]

Artinya : Menjadikan milik suatu kemanfaatan yang mubah dalam waktu tertentu dengan pengganti.

Ada yang menerjemahkan, ijarah sebagai jual beli jasa ( Upah- mengupah ), yakni mengambil manfaat tenaga manusia, ada pula yang menerjemahkan sewa menyawa, yakni mengambil manfaat dari barang. Jumhurul ulama’ beerpendapat ijarah adalah menjual manfaat Dan yang boleh di sewakan Dan yang boleh di sewakan adalah manfaatnya bukan bendanya.[8]

Dalam syari’at Islam ijarah adalah jenis akad untuk mengambil manfaat dengan kompensasi.[9] Sedangkan menurut Sulaiman Rasjid mempersewakan ialah akad atas manfaat (jasa) yang dimaksud lagi diketahui, dengan tukaran yang diketahui, menurut syarat-syarat yang akan dijelaskan kemudian.[10]

  1. B.   Permasalannya

 

Berdasarkan hal itu, menyewakan pohon agar dimanfaatkan buahnya hukumnya tidak sah karena pohon itu sendiri bukan keuntungan atau manfaat. Demikian juga menyewakan dua jenis mata uang (emas dan perak), makanan untuk dimakan, barang yang dapat ditakar dan ditimbang. Alasannya semua jenis barang tersebut tidak dapat dimanfaatkan kecuali dengan mengkonsumsi bagian dari barang tersebut. Hukum sewa juga diberlakukan atas sapi, domba atau unta untuk diambil susunya. Akad sewa mengharuskan penggunaan manfaat dan bukan barang itu sendiri.

Suatu manfaat, terkadang berbentuk manfaat atas barang, seperti rumah untuk ditempati, mobil untuk dikendarai. Kadangkala dalam bentuk karya seperti karya seorang arsitek, tukang tenun, penjahit.

Apabila akad sewa diputuskan, penyewa sudah memliki hak atas manfaat dan pihak yang menyewakan berhak mengambil kompensasi sebab sewa adalah akad mu’awwadhah timbal balik.[11]

  1. 1.     Landasan Syara’

      Hampir semua ulama’ ahli fiqih sepakat bahwa jahrah di isyaratkan dalam islam. Ada golongan yang tidak menyepakatinya seperti Abu Bakar Al-Ashan, Ismail Ibn Aliyah, Hasan Al-Bisri, Al-Qasyani, Nahrawi Dan Ibn kaisan.

Jumhurul ulama’ berpendapat ijarah di syariatkan berdasarkan.

  1. Al-Qur’an

Artinya : Jika mereka menyusukan  ( anak-anakmu ) untukmu, maka berikanlah mereka upahnya. Qs. Thala : 6

  1. As-Sunnah

Artinya :  Berilah upah pekerja sebelum keringatnya jering. Hr Ibnu Majah dari Ibn Umar

  1. Ijma’

Umat islam pada masa sahabat telah berijma’ bahwa ijarah di bolehkan sebab bermanfaatkan bagi manusia.[12]

  1. 2.     Rukun Ijarah

Menurul Jumhurul ulama’ rukun ijarah ada 4 ( Empat ), yaitu :

  1. Aqid ( orang yang aqad )
  2. Shighat akad
  3. Ujrah ( Upah )
  4. Manfaat
  5. C.   Syarat Ijarah

Syarat ijarah terdiri empat macam sebagaimana syarat dalam jual beli yaitu :

1)      Syarat terjadinya akad

Syarat in’inqod ( terjadinya akad ) berkaitan dengan aqid, zat akad, Dan tempat akad.

2)      Syarat pelaksanaan akad ( an-nafadz )

Agar ijarah dapat terlaksanakan, barang harus dimiliki oleh aqid, atau dia memiliki kekuasaan penuh untuk akad ( ahliyah )

3)      Syarat sah ijarah

Keabsahan ijarah sangat berkaitan dengan aqid ( orang yang aqad ), ma’qud alaih ( barang yang menjadi obyek aqad ), ujrah ( upah ), Dan zat akad ( nafs al-aqad ) yaitu :

a)      Adanya keridhaan dari kedua pihak yang akad

b)      Ma’qud alaih bermanfaat dengan jelas

c)      Maqud alaih ( Barang ) harus dapat memenuhi secara syara’

d)      Kemanfaatkan benda di bolehkan menurut syara’

e)      Tidak menyewa untuk pekerjaan yang di wajibkan ke padanya

f)        Tidak mengambil manfaat dari diri orang yang di sewa

g)      Manfaat ma’qud alaih sesuai keadaan yang umum

4)      Syarat Kelaziman

Syarat kelaziman ijarah terdiri atas dua hal yaitu :

–         Ma’qud Alaih ( barang sewaan ) terhindar dari cacat

–         Tidak ada udzur yang dapat membatalkan akad

  1. D.    Sifat Dan Hukum Ijarah
    1.  Sifat Ijarah

Menurut ulama’Hanafiyah, ijarah adalah akad lazim yang di dasarkan pada firman Allah SWT                               yang boleh di batalkan .[13]

Sebaliknya, Jumhur Ulama’ berpendapat bahwa ijarah adalah akad lazim yang tidak dapat di batalkan, kecuali dengan adanya sesuatu yang merusak penemuhannya, seperti hilangnya manfaat.

Berdasarkan dua pandangan di atas, menurut ulama’ Hanafiyah, Ijarah batal dengan meninggalnya. Salah seorang yang akad Dan tidak dapat di alihkan ke pada ahli waris, adapun menurut jumhur ulama’ Ijarah tidak batal, tetapi berpindah kepada ahli warisnya.[14]

  1. Hukum ijarah

Hukum ijarah sahih adalah tetapnya kemanfaatan bagi penyewa, Dan tetapnya upah bagi pekerja atau orang yang menyewakan ma’qud alaih, sebab ijarah termasuk jual beli pertukaran, hanya saja dengan kemanfaatan.

  1. E.   Pembagian Dan Hukum Ijarah

 

Ijarah terbagi 2 ( Dua ) yaitu Ijarh terhadap benda atau sewa menyewa, Dan ijarah atas pekerjaan atau upah mengupah.

  • Hukum sewa menyewa

Di Bolehkan iijarah atas barang mubah seperti, rumah, kamar, Dan lain-lain. Tetapi di larang ijarah terhadap benda-benda yang di haramkan.

  1. Cara memanfaatkan barang sewa’an
    1. Sewa Rumah

Jika seseorang menyewa rumah, di perbolehkan untuk memanfaatkannya  sesuai kemanfaatannya, bahkan boleh di sewakan lagi atau di pinjamkan pada orang lain.

  1. Sewa Tanah

Sewa tanah di haruskan untuk menjelaskan tanaman apa yang akan di tanam atau bangunan apa yang di bangun.

  1. Sewa Kendaraan

Dalam menyewa kendaraan, baik hewan atau kendaraan lainnya harus di jelaskan ssalah satu di antara dua hal waktu Dan tempatnya. Juga harus di jelaskan barang yang akan di bawa atau benda yang akan di angkut.

  1. Perbaikan barang sewaan

Menurut ulama’ Hanafiyah, jika barang yang di sewakan rusak seperti pintu rusak, atau dinding jebol Dan lain-lainnya maka pemiliknya yang wajib memperbikinya.

  1. Kewajiban penyewa setelah habis masa sewa

Di antara kewajibanpenyewa setelah masa sewa habis adalah

–         Menyerahkan kunci jika yang di sewakan rumah

–         Jika yang di sewakan kendaraan, ia harus menyimpan kembali di tempat asalnya.

  • Hukum upah Mengupah

Upah mengupah atau ijarah ‘ala al-a’mal, yakni jual beli jasa. Biasanya berlaku dalam beberapa hal, seperti menjahitkan pakaian, membangun rumah, Dan lain-lain, ijarah ‘ala al-a’mal terbagi menjadi dua bagian yaitu:

1)      Ijarah Khusus

Ijarah Khusus adalah ijarah yang di lakukan oleh seorang pekerja. Hukumnya orang yang bekerja tidak boleh bekerja selain dengan orang yang telah memberikan upah.

2)      Ijarah Musytarik

Ijarah Musyatarik  adalah ijarah yang di lakukan secara bersama-sama atau melalui kerja sama hukumnya di perbolehkan bekerja sama dengan orang lain.

  • Gugurnya Upah

Para Ulama’ berbeda pendapat dalam menentukan upah bagi Ajir, apabila barang yang di tangannya rusak.

Menurut ulama’ Syafi’iyah, jika bekerja di tempat yang di miliki oleh penyewa, ia tetap memperoleh upah. Sebalinya, apabila barang berada di tangannya, ia tidak mendapatkan upah.[15] Pendapat ulama’ syafi’iyah tersebut senada dengan pendapat ulama’ Hambali [16] ulama’ Hanafiyah juga sama pendapatnya seperti pendapatnnya ulama’ Hanafiyah Dan ulama’ Hambali.

BAB III

KESIMPULAN

 

 

  1. Secara etimologis al-ijarah berasal dari kata al-ajru yang arti menurut bahasanya ialah al-iwadh yang arti dalam bahasa indonesianya adalah ganti dan upah.
  2. Rukun Ijarah Menurul Jumhurul ulama’ rukun ijarah ada 4 ( Empat ), yaitu Aqid ( orang yang aqad ), Shighat akad, Ujrah ( Upah )Dan Manfaat
  3. Syarat ijarah terdiri empat macam sebagaimana syarat dalam jual beli yaitu, Syarat terjadinya akad, Syarat pelaksanaan akad ( an-nafadz ), Syarat sah ijarah, Dan Syarat Kelaziman.
  4. Sifat Ijarah Menurut ulama’Hanafiyah, ijarah adalah akad lazim yang di dasarkan pada firman Allah SWT                               yang boleh di batalkan.
  5. Hukum ijarah sahih adalah tetapnya kemanfaatan bagi penyewa, Dan tetapnya upah bagi pekerja atau orang yang menyewakan ma’qud alaih.
  6. Ijarah terbagi 2 ( Dua ) yaitu Ijarh terhadap benda atau sewa menyewa, Dan ijarah atas pekerjaan atau upah mengupah.
  7. Di Bolehkan iijarah atas barang mubah seperti, rumah, kamar, Dan lain-lain. Tetapi di larang ijarah terhadap benda-benda yang di haramkan.
  8. Menurut ulama’ Syafi’iyah, jika bekerja di tempat yang di miliki oleh penyewa, ia tetap memperoleh upah. Sebalinya, apabila barang berada di tangannya, ia tidak mendapatkan upah

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Alauddin Al-Kasani, Badai’ Ash Shanai’ fi taqrib asy Shara’i, Sirkah Al-Mathbu’ahh, Mesir.

Ahmad, Idris, 1986. Fiqh al-Syafi’iyah,Jakarta: Karya Indah

Syafi’I, Rahmat, 2004.  Fiqh Muamalah, Bandung: CV Pustaka Setia

Rasjid, Sulaiman, 1994. Fiqh Islam, Bandung: Sinar Baru Algensind

Ibn Rusyd Al –Hafizh, Bidayah Al-Mujtahid wa An-Nihayah Al-Mustashid, Beirud, Dar Al-Fikr.

Ibn Abidin, Radd Al- Mukhtar Ala Dur Al-Mukhtar, Al Maimunah, Mesir

Ibn Qudamah, Al-Mugni, Mathba’h Al-Imam, Mesir.

Muhammad Asy-Syarbini, Mugni.

Sabiq, Sayyid, 2004. Fiqhus Sunnah, terjemah Nor Hasanuddin, Jakarta: Pena Pundi Aksara


[1] Idris Ahmad, Fiqh al-Syafi’iyah (Jakarta: Karya Indah. 1986) h. 139

[2] Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, terjemah Nor Hasanuddin (Jakarta: Pena Pundi Aksara. 2004) h. 203

[3] Rahmat Syafi’I,  Fiqh Muamalah (Bandung: CV Pustaka Setia. 2004) h. 121

[4]  Alauddin Al-Kasani, Badai’ Ash Shanai’ fi taqrib asy Shafii. Juz iv, hlm. 174

[5] Muhammad Asy-Syarbini, Mugni, Juz 11, hal 332

[6] Syarh Al-Kabir Li Dardir, juz IV, hlm 2

[7] Ibn Qudamah, Al-Mugni, juz V, hlm.398

[8] Ibn Abidin, Radd Al- Mukhtar Ala Dur Al-Mukhtar, juz IV, hlm 110

[9] Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah ……, h.203

[10] H. Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam (Bandung: Sinar Baru Algensindo. 1994) h. 303

[11] Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah ……, h.20

[12] Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, Dan Nasa’ dari said ibn  Abi Waqash

[13] Ibid, juz Iv hlm. 201

[14] Ibn Rusyd, Op.Cit, juz II. hlm 328

[15] Asy-syirazo, Op Cit, juz I, hlm 409

[16] Ibn Qudamah, Op Cit, juz V, hlm 487

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized